Mengambil pilihan yang berbeda dari kebanyakan orang memang butuh keberanian tersendiri. Terutama keberanian untuk mendengar berbagai komentar orang tentang perbedaan tersebut. Seperti yang terjadi jika cewek menyukai cowok yang umurnya terpaut jauh lebih tua, di atas lima tahun.
Kalau masalah ini ditanyakan kepada responDenita, kebanyakan di antara mereka berpendapat, cewek yang naksir cowok jauh lebih tua udah bosan pacaran main-main (34,7 persen). Bisa juga karena trauma pacaran dengan cowok sepantaran (22,3 persen). Atau, emang mengidap oedipus complex (14,3 persen).
Menurut Amalia Putri Ayu, cewek yang punya kecenderungan seperti itu pasti udah pengin pacaran serius. Sang cowok pun diyakini punya pemikiran serupa. "Iya dong. Nggak mungkin kan dengan umur lebih dari 20 tahun masih pengin pacaran dengan gaya anak SMA. Pasti tujuannya lebih serius," papar siswi SMPN 6 ini.
Amalia berkomentar seperti itu juga bukan tanpa alasan. Soalnya, ada teman kakaknya yang pernah ngalamin. Dan, ternyata mereka berdua berencana tunangan setelah sang cewek lulus SMA.
Kalau pacaran sama cowok sepantaran, mentok-mentoknya cuma buat fun, pengisi waktu luang. Itu komentar yang dilontarkan Nur Chasanah asal SMKN 1. Beda dengan cowok yang sudah "matang", pasti orientasinya jauh ke depan. "Sama cowok yang lebih tua, seperti ada gambaran buat masa depan. Nggak sekedar coba-coba," tuturnya.
Yap! Bukan lagi coba-coba, tapi arahnya susah serius. Tapi, selain pengin serius, ada faktor lain yang bisa bikin cewek terpikat pada cowok matang. "Mungkin dia pernah trauma sama cowok yang sepantaran. Sering disakiti atau kerjaannya tengkar mulu," urai Raquel Olivia Sutrisno, pelajar SMA Frateran.
Cowok yang usianya matang diyakini bisa lebih sabar dan bersifat melindungi. "Karena lebih dewasa, jadi bisa lebih pengertian sama cewek. Alhasil, hubungan pacaran minim keributan, bisa awet, dan dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi," pungkasnya.
Minggu, 07 Desember 2008
Selasa, 12 Agustus 2008
Pakai Anak Panah yang Sesuai
Cara menghancurkan batu dan baja jelas berbeda. Batu, cukup dihantamkan ke benda yang lebih keras, pasti hancur berkeping-keping. Kalau baja? Eits, nanti dulu. Kalau nggak dipanaskan sampai suhu tertentu, jangan mimpi bisa melihat baja hancur berkeping-keping.
Sama dengan menaklukkan cewek. Salah pilih "senjata", bisa-bisa bukan cinta dan anggukan setuju untuk jadian yang bakal kamu dapatkan. Tapi, sebuah tamparan atau cacian. Aduh, males banget, kan? Nah, kalau bingung, nih Aime kasih tip memilih anak panah cinta yang sesuai untuk menaklukkan tuan putri. (art/dat)
----------
Cewek Cuek
Nona yang satu ini memang bener-bener dingin kayak es batu. Kelihatan judes dan nggak ramah pula. Hmm... kamu harus punya muka tebal kalau mau berhadapan sama mereka
Muka tebal? Maksudnya, kamu harus punya nyali yang besar plus niat. Soalnya, liat tampangnya yang ketus aja udah bikin bad mood. Tapi, jangan pesimistis dulu. Sebab, di balik muka yang cetus itu, tipe cewek yang satu ini ternyata sensitif banget.
Jangan tersinggung kalo dicuekin. Tetap perhatian dan cari kelemahannya. Kalau perlu, tunjukin ilmu sulap yang kamu punya. Cewek tipe ini banyak didapat di perpustakaan. Kan lagi serius baca buku.
Cewek Rumahan
Dari namanya aja udah jelas bahwa cewek tipe ini senang banget ngendon di rumah. Yup, rumah merupakan surga baginya. Nonton TV, dengerin kaset, CD, atau radio udah cukup bikin mereka tenang.
Leyeh-leyeh di kasur atau duduk-duduk di teras rumah sambil baca novel dan majalah menjadi menu utama setiap hari. Tapi, bukan berarti mereka nggak senang gaul. Hanya, buat cewek rumahan, nggak ada tempat senyaman rumah.
Cewek tipe ini gampang dicari. Coba aja kamu keliling kompleks perumahan, terus ketokin tiap pintu rumah. Pasti dia bakal muncul. Asal kamu relain waktu buat nongkrong di rumahnya, dijamin deh, dia bisa nyaman sama kamu.
Cewek Gaul
Tipe yang satu ini kebalikan dari cewek rumahan. Buat dia, rumah cuma "terminal" untuk tidur. Seluruh waktunya habis buat gaul. Kalau kamu cari cewek tipe ini di daerah perumahan, dijamin nggak bakal ketemu! Coba aja cari di mal, kafe, bioskop, atau klub malam. Pasti banyak banget. Kayak semut lagi rapat.
Rajin berwisata ke tempat-tempat gaul wajib kamu lakuin. Nggak hanya itu, kamu juga harus up-to-date soal dandanan. Soalnya, cewek gaul selalu memperhatikan penampilan.
Cewek Kuper
Wow, kurang pergaulan! Cewek kuper alias nggak bergaul jelas nggak suka pergi ke mana-mana. Paling cuma di dalam rumah. Mungkin mereka kurang pede sama penampilan diri.
Nah, biar nggak terlalu lama terisolasi di rumah, ajak dia mengenal matahari. Pergi ke luar rumah maksudnya. Kenalin dia ke teman-temanmu dan jangan lupa kasih dia majalah cewek biar wawasannya nggak cupet.
Cewek Player
Banyak yang bilang bahwa tipe cewek kayak gini berbahaya. Gimana nggak, namanya juga cewek player, pasti kerjaannya suka gonta-ganti cowok. Padahal, yang sebenarnya dia lakukan itu adalah cara untuk mencari perhatian lebih ke orang lain.
Cewek player punya percaya diri yang tinggi. Ngerasa dibutuhin cowok, maka dia ngerasa yang paling perfect. Biasanya, cewek ini suka cari cowok yang berkantong tebal, royal, dan satu lagi: tampan.
Tipe player biasanya banyak di mal. Cirinya, suka tebar pesona. Untuk ngedapetin cewek ini, bermainlah layang-layang alias tarik ulur. Tebar pesona harus dibalas dengan tebar pesona. Trus, buat dirimu misterius. Pasti si cewek penasaran.
Cewek Romantis
Gampang ketebak apa maunya nih cewek. Semua hal yang berbau romantis pasti bisa bikin dia berbunga-bunga, bahkan klepek-klepek.
Seringnya sih, tipe cewek kayak gini suka nongkrong di taman. Dikelilingi bunga-bunga. Siapin aja meja untuk dinner di tempat terbuka sambil lihat bintang. Sip sip, pasti si cewek romantis bakal tersipu.(*)
Sama dengan menaklukkan cewek. Salah pilih "senjata", bisa-bisa bukan cinta dan anggukan setuju untuk jadian yang bakal kamu dapatkan. Tapi, sebuah tamparan atau cacian. Aduh, males banget, kan? Nah, kalau bingung, nih Aime kasih tip memilih anak panah cinta yang sesuai untuk menaklukkan tuan putri. (art/dat)
----------
Cewek Cuek
Nona yang satu ini memang bener-bener dingin kayak es batu. Kelihatan judes dan nggak ramah pula. Hmm... kamu harus punya muka tebal kalau mau berhadapan sama mereka
Muka tebal? Maksudnya, kamu harus punya nyali yang besar plus niat. Soalnya, liat tampangnya yang ketus aja udah bikin bad mood. Tapi, jangan pesimistis dulu. Sebab, di balik muka yang cetus itu, tipe cewek yang satu ini ternyata sensitif banget.
Jangan tersinggung kalo dicuekin. Tetap perhatian dan cari kelemahannya. Kalau perlu, tunjukin ilmu sulap yang kamu punya. Cewek tipe ini banyak didapat di perpustakaan. Kan lagi serius baca buku.
Cewek Rumahan
Dari namanya aja udah jelas bahwa cewek tipe ini senang banget ngendon di rumah. Yup, rumah merupakan surga baginya. Nonton TV, dengerin kaset, CD, atau radio udah cukup bikin mereka tenang.
Leyeh-leyeh di kasur atau duduk-duduk di teras rumah sambil baca novel dan majalah menjadi menu utama setiap hari. Tapi, bukan berarti mereka nggak senang gaul. Hanya, buat cewek rumahan, nggak ada tempat senyaman rumah.
Cewek tipe ini gampang dicari. Coba aja kamu keliling kompleks perumahan, terus ketokin tiap pintu rumah. Pasti dia bakal muncul. Asal kamu relain waktu buat nongkrong di rumahnya, dijamin deh, dia bisa nyaman sama kamu.
Cewek Gaul
Tipe yang satu ini kebalikan dari cewek rumahan. Buat dia, rumah cuma "terminal" untuk tidur. Seluruh waktunya habis buat gaul. Kalau kamu cari cewek tipe ini di daerah perumahan, dijamin nggak bakal ketemu! Coba aja cari di mal, kafe, bioskop, atau klub malam. Pasti banyak banget. Kayak semut lagi rapat.
Rajin berwisata ke tempat-tempat gaul wajib kamu lakuin. Nggak hanya itu, kamu juga harus up-to-date soal dandanan. Soalnya, cewek gaul selalu memperhatikan penampilan.
Cewek Kuper
Wow, kurang pergaulan! Cewek kuper alias nggak bergaul jelas nggak suka pergi ke mana-mana. Paling cuma di dalam rumah. Mungkin mereka kurang pede sama penampilan diri.
Nah, biar nggak terlalu lama terisolasi di rumah, ajak dia mengenal matahari. Pergi ke luar rumah maksudnya. Kenalin dia ke teman-temanmu dan jangan lupa kasih dia majalah cewek biar wawasannya nggak cupet.
Cewek Player
Banyak yang bilang bahwa tipe cewek kayak gini berbahaya. Gimana nggak, namanya juga cewek player, pasti kerjaannya suka gonta-ganti cowok. Padahal, yang sebenarnya dia lakukan itu adalah cara untuk mencari perhatian lebih ke orang lain.
Cewek player punya percaya diri yang tinggi. Ngerasa dibutuhin cowok, maka dia ngerasa yang paling perfect. Biasanya, cewek ini suka cari cowok yang berkantong tebal, royal, dan satu lagi: tampan.
Tipe player biasanya banyak di mal. Cirinya, suka tebar pesona. Untuk ngedapetin cewek ini, bermainlah layang-layang alias tarik ulur. Tebar pesona harus dibalas dengan tebar pesona. Trus, buat dirimu misterius. Pasti si cewek penasaran.
Cewek Romantis
Gampang ketebak apa maunya nih cewek. Semua hal yang berbau romantis pasti bisa bikin dia berbunga-bunga, bahkan klepek-klepek.
Seringnya sih, tipe cewek kayak gini suka nongkrong di taman. Dikelilingi bunga-bunga. Siapin aja meja untuk dinner di tempat terbuka sambil lihat bintang. Sip sip, pasti si cewek romantis bakal tersipu.(*)
Cinta Murni atau Semu
Mengaku mampu mempersembahkan cinta sejati untuknya? Nanti dulu. Saat tertusuk panah cupid, kita sering jadi orang idiot mendadak, lho. Dalam hati cinta, tapi output-nya sering nggak sejalan. Malah, nggak jarang kita marah tanpa sebab. Si dia mungkin mau mengalah. Tapi, dari sinar matanya, terlihat jelas kalau dia kecewa. Nah, lho, beneran cinta nggak sih? Sebelum mendapatkan surat PHK dari sang pangeran, lebih baik kenali dulu kadar cintamu. Ingat, nggak ada kata terlambat untuk berubah, kok! (put/nor)
---
Kamu tidak sungguh-sungguh menyayanginya kalau:
? Selalu berpikir bahwa si dia adalah pangeran paling tampan, baik hati, pengertian, setia, dan sempurna.
? Mengutamakan janji kencan kalian ketimbang menuruti permintaannya untuk menonton DVD di rumah karena capek.
? Setiap ada waktu luang, kamu selalu mengharuskan dirimu untuk menghabiskannya bersama dia.
? Nggak tahu kenapa, kamu gampang banget marah setiap kali dia bikin salah, tanpa mau mendengarkan dan memikirkan alasannya.
? Kamu begitu menyayanginya, sampai-sampai nggak rela kalau senyumnya yang indah itu harus terbagi dengan cewek lain. Kamu jadi gampang cemburu.
? Sulit banget berkompromi setelah bertengkar. Seandainya dia begini, pasti jadinya akan lebih baik, begitu pikirmu selalu.
---
Kamu menyayanginya dengan tulus kalau:
? Kamu sendiri juga nggak tahu alasannya. Tapi, kamu bersedia menerima dia apa adanya, lengkap dengan segala paket kekurangannya. Lucunya lagi, kamu sama sekali nggak berniat mengubah kejelekannya itu.
? Mengutamakan kepentingannya di atas kepentinganmu. Dia memang janji bakal menemanimu nonton film yang udah kamu tunggu-tunggu sejak berbulan-bulan lalu. Tapi, kalau dia capek? Jelas nggak tega. Mendingan menemaninya istirahat di rumah.
? Merasa nyaman saat terpisah dengannya sepanjang dia baik-baik aja. Dalam kamusmu, nggak ada keharusan untuk kencan. Kalau dia memang lagi sibuk, ya ditunda dulu senang-senangnya. Asal, komunikasi tetap terjaga.
? Meskipun dia memang bersalah, kamu tetap bersedia mendengarkan alasannya. Kamu juga nggak keberatan mempertimbangkan alasan itu sebagai alasan untuk memaafkannya.
? Percaya seratus persen kepadanya. Dia jalan berdua sama sobat ceweknya? So what? Kamu yakin dia nggak bakal menodai kepercayaan yang udah kamu berikan kepadanya.
? Mau diajak mencari solusi bersama setelah cekcok. Bahkan, kamu selalu memetik hikmah dari suasana panas tadi.
---
Kamu tidak sungguh-sungguh menyayanginya kalau:
? Selalu berpikir bahwa si dia adalah pangeran paling tampan, baik hati, pengertian, setia, dan sempurna.
? Mengutamakan janji kencan kalian ketimbang menuruti permintaannya untuk menonton DVD di rumah karena capek.
? Setiap ada waktu luang, kamu selalu mengharuskan dirimu untuk menghabiskannya bersama dia.
? Nggak tahu kenapa, kamu gampang banget marah setiap kali dia bikin salah, tanpa mau mendengarkan dan memikirkan alasannya.
? Kamu begitu menyayanginya, sampai-sampai nggak rela kalau senyumnya yang indah itu harus terbagi dengan cewek lain. Kamu jadi gampang cemburu.
? Sulit banget berkompromi setelah bertengkar. Seandainya dia begini, pasti jadinya akan lebih baik, begitu pikirmu selalu.
---
Kamu menyayanginya dengan tulus kalau:
? Kamu sendiri juga nggak tahu alasannya. Tapi, kamu bersedia menerima dia apa adanya, lengkap dengan segala paket kekurangannya. Lucunya lagi, kamu sama sekali nggak berniat mengubah kejelekannya itu.
? Mengutamakan kepentingannya di atas kepentinganmu. Dia memang janji bakal menemanimu nonton film yang udah kamu tunggu-tunggu sejak berbulan-bulan lalu. Tapi, kalau dia capek? Jelas nggak tega. Mendingan menemaninya istirahat di rumah.
? Merasa nyaman saat terpisah dengannya sepanjang dia baik-baik aja. Dalam kamusmu, nggak ada keharusan untuk kencan. Kalau dia memang lagi sibuk, ya ditunda dulu senang-senangnya. Asal, komunikasi tetap terjaga.
? Meskipun dia memang bersalah, kamu tetap bersedia mendengarkan alasannya. Kamu juga nggak keberatan mempertimbangkan alasan itu sebagai alasan untuk memaafkannya.
? Percaya seratus persen kepadanya. Dia jalan berdua sama sobat ceweknya? So what? Kamu yakin dia nggak bakal menodai kepercayaan yang udah kamu berikan kepadanya.
? Mau diajak mencari solusi bersama setelah cekcok. Bahkan, kamu selalu memetik hikmah dari suasana panas tadi.
Musuh dalam Perjuangan
Love is not mission impossible. Ya, yang benar itu love is mission possible. Nggak pernah ada kata nggak mungkin dalam cinta. Makanya, kamu jangan sampai kalah sebelum berperang (baca: mengungkapkan kata cinta). Tapi, sebelum itu, kamu harus berhadapan dulu dengan musuh-musuh cinta. Kalau kamu berhasil mengalahkannya, kans untuk mendapatkan hati targetmu akan makin besar. (nor)
Fear (ketakutan)
Rasa takut bisa menjadi musuh paling susah untuk ditaklukkan. Takut memulai, takut ditolak, takut sakit, dan sejuta ketakutan lainnya. Wah...wah... jangan-jangan kamu juga takut gelap. Kalah sama Tasya dong. He he... Be brave, boys! Jangan biarkan rasa takut menguasaimu.
Minder
Pada umumnya, rasa takut itu muncul dari perasaan kurang percaya diri. Mungkin aja, kamu ngerasa "kalah" sama targetmu. Atau, ada cowok-cowok lain yang juga menginginkannya dan kamu ngerasa kalah bersaing. Padahal nih, cinta itu nggak bisa dihitung pakai rumus. Hasilnya nggak bisa diterka dengan tepat. Makanya, nggak perlu minder. Semua punya peluang yang sama kok.
Late (terlambat)
Ini dia yang bikin ngenes. Kalau kamu udah ngelakuin segala usaha, tapi eksekusinya telat. Waduh... Ingat kan kata mutiara "time is money." Waktu sangat berharga. Terlambat beberapa detik aja, kamu bisa gagal naik kereta. Terlambat ambil langkah tegap maju ucapkan cinta, kamu bisa menyesal tujuh turunan.
Ego
Yang satu ini juga harus dikalahkan. Sebelum menyatakan cinta, yakinkan dirimu bahwa keputusan yang bakal kamu ambil bukan berdasar ego semata. Misalnya, pengin jadian sama dia buat mengejar prestise biar dikagumi teman satu sekolah. Weits... jauhkan pikiran itu karena akan meracuni dirimu sendiri.(*)
Fear (ketakutan)
Rasa takut bisa menjadi musuh paling susah untuk ditaklukkan. Takut memulai, takut ditolak, takut sakit, dan sejuta ketakutan lainnya. Wah...wah... jangan-jangan kamu juga takut gelap. Kalah sama Tasya dong. He he... Be brave, boys! Jangan biarkan rasa takut menguasaimu.
Minder
Pada umumnya, rasa takut itu muncul dari perasaan kurang percaya diri. Mungkin aja, kamu ngerasa "kalah" sama targetmu. Atau, ada cowok-cowok lain yang juga menginginkannya dan kamu ngerasa kalah bersaing. Padahal nih, cinta itu nggak bisa dihitung pakai rumus. Hasilnya nggak bisa diterka dengan tepat. Makanya, nggak perlu minder. Semua punya peluang yang sama kok.
Late (terlambat)
Ini dia yang bikin ngenes. Kalau kamu udah ngelakuin segala usaha, tapi eksekusinya telat. Waduh... Ingat kan kata mutiara "time is money." Waktu sangat berharga. Terlambat beberapa detik aja, kamu bisa gagal naik kereta. Terlambat ambil langkah tegap maju ucapkan cinta, kamu bisa menyesal tujuh turunan.
Ego
Yang satu ini juga harus dikalahkan. Sebelum menyatakan cinta, yakinkan dirimu bahwa keputusan yang bakal kamu ambil bukan berdasar ego semata. Misalnya, pengin jadian sama dia buat mengejar prestise biar dikagumi teman satu sekolah. Weits... jauhkan pikiran itu karena akan meracuni dirimu sendiri.(*)
Tidak Ada Anak Emas
Seorang anak yang bersekolah di tempat orang tuanya bekerja, dalam hal ini guru, adalah hal yang wajar. Semua orang memiliki hak seperti itu. Namun, anak tersebut harus diperlakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Tidak ada konsep "anak emas" atau perlakuan khusus. Anak itu juga mendapatkan perlakuan sama seperti anak-anak yang lain. Setiap guru tidak diperbolehkan mengistimewakan anaknya sendiri di sekolah. Tujuannya, agar tidak menimbulkan perselisihan antarsiswa. Orang tua, dalam hal ini guru, harus memiliki sikap bijaksana untuk menyikapi. Anak guru tersebut juga harus mandiri, belajar dengan baik, dan tidak menggantungkan diri kepada ortu (guru). Apalagi untuk selalu memberikan nilai-nilai yang bagus. (art/kkn)
Drs Mariono
Wakasek Kesiswaan SMAN 10 Surabaya
Drs Mariono
Wakasek Kesiswaan SMAN 10 Surabaya
Jaim Malah Bikin Canggung
Punya ortu yang jadi guru di tempat kita sekolah emang manis-manis pahit. Ada apa-apa di sekolah, bisa langsung di-handle ortu. Selain itu, kita bakal lebih aman karena terus di dekat ortu. Tapi, jangan cepat senang dulu.
Coba dengar dulu pendapat Adithya Bagus. Menurut pelajar SMAN 2 ini, punya ortu yang jadi guru di sekolahan bisa bikin canggung. Setiap hari kan harus berhadapan dengan ortu. Masalahnya, kalau di rumah nggak pernah jaim-jaiman, di sekolah bakal kerasa aneh, jadi harus menyesuaikan keadaan. Nah, ini dia yang bikin canggung.
Bukan itu saja yang bikin terlihat canggung. Perilaku kita pun tentu akan lebih dijaga. Ini semata-mata untuk menjaga nama baik ortu. "Kalau ada hal buruk yang menimpa kita kan, yang pertama jadi sasaran ortu," ujar Adithya yang juga suka musik itu.
Irwin Purnama sama. Menurut pelajar SMP YP Trisila ini, punya ortu di sekolahan itu banyak ruginya. Apa-apa diawasin ortu. Kalau dah gitu, imbasnya kita jadi jaim-jaiman tiap kali ketemu ortu. Irwin bisa berpendapat begitu karena dia punya teman seperti itu.
Dia bercerita bahwa temannya dan sang ortu kerap saling jaga sikap. Terutama kalau di depan teman-teman. Hal tersebut justru membuat temannya terlihat canggung. "Apalagi saat disuruh maju oleh sang ortu. Pasti deh terlihat salting. He he he..." ujarnya. Duh kok malah diketawain sih?
Bukan itu saja yang perlu dikhawatirkan. Kabar tidak sedap pun bisa menghampiri. Seperti yang ingin dikemukakan Della Aulia. Pelajar SMAN 8 ini mengkhawatirkan bakal berembusnya gosip.
"Ntar kalau nilainya bagus, dibilangin dapat bocoran dari ortu. Tapi kalau nilainya jelek, malah diejekin," urai cewek yang mash berstatus single itu. Tapi, bukan berarti Della nolak kalau seandainya punya ortu yang jadi guru di sekolahnya. "Yang penting kan fair sama sapa saja," belanya. Buat yang lain dengarin tuh. Thanks yah Bel, buat masukannya! (yog/kkn)
Coba dengar dulu pendapat Adithya Bagus. Menurut pelajar SMAN 2 ini, punya ortu yang jadi guru di sekolahan bisa bikin canggung. Setiap hari kan harus berhadapan dengan ortu. Masalahnya, kalau di rumah nggak pernah jaim-jaiman, di sekolah bakal kerasa aneh, jadi harus menyesuaikan keadaan. Nah, ini dia yang bikin canggung.
Bukan itu saja yang bikin terlihat canggung. Perilaku kita pun tentu akan lebih dijaga. Ini semata-mata untuk menjaga nama baik ortu. "Kalau ada hal buruk yang menimpa kita kan, yang pertama jadi sasaran ortu," ujar Adithya yang juga suka musik itu.
Irwin Purnama sama. Menurut pelajar SMP YP Trisila ini, punya ortu di sekolahan itu banyak ruginya. Apa-apa diawasin ortu. Kalau dah gitu, imbasnya kita jadi jaim-jaiman tiap kali ketemu ortu. Irwin bisa berpendapat begitu karena dia punya teman seperti itu.
Dia bercerita bahwa temannya dan sang ortu kerap saling jaga sikap. Terutama kalau di depan teman-teman. Hal tersebut justru membuat temannya terlihat canggung. "Apalagi saat disuruh maju oleh sang ortu. Pasti deh terlihat salting. He he he..." ujarnya. Duh kok malah diketawain sih?
Bukan itu saja yang perlu dikhawatirkan. Kabar tidak sedap pun bisa menghampiri. Seperti yang ingin dikemukakan Della Aulia. Pelajar SMAN 8 ini mengkhawatirkan bakal berembusnya gosip.
"Ntar kalau nilainya bagus, dibilangin dapat bocoran dari ortu. Tapi kalau nilainya jelek, malah diejekin," urai cewek yang mash berstatus single itu. Tapi, bukan berarti Della nolak kalau seandainya punya ortu yang jadi guru di sekolahnya. "Yang penting kan fair sama sapa saja," belanya. Buat yang lain dengarin tuh. Thanks yah Bel, buat masukannya! (yog/kkn)
Lupa Menaruh, Bangunkan Orang Serumah
Yang namanya kebiasaan itu pasti susah diubah. Baik kebiasaan baik maupun buruk. Kebetulan, kebiasaanku termasuk ke dalam kategori buruk. Sejak kecil, aku termasuk kategori pribadi teledor. Barang apa pun yang dipegang pasti akan lenyap entah ke mana.
Penyebabnya, aku lupa tempat menaruh. Mulai buku, alat-alat tulis, hingga kunci mobil. Parah nggak tuh? Akibatnya, orang-orang di sekitarku pasti ikutan repot kalau "penyakitku" kambuh. Mulai bantuin nyariin sampai bantuin marah-marah karena sebal. He he he...
Melihat ini semua, mereka mulai gerah, termasuk ortuku. Terutama, Mama. Beliau nggak pernah lupa menasihati aku agar care dengan barang-barangku. Tapi, nasihat itu masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Sama sekali nggak ada efeknya. Semua barang-barangku tetap aja hilang. Agar nggak dimarahi, aku berlagak nggak ada apa-apa.
Kalau misalnya ditanya barang A ke mana, aku berdalih dipinjam atau ketinggalan di rumah teman. Untung, ortu percaya. Hal itu mungkin terus berlanjut bila dua tahun lalu aku nggak kena batunya.
Kali ini, yang hilang adalah kunci gembok rumah. Cerita tersebut terjadi saat masa SMA dulu. Waktu itu, aku selalu dapat jadwal latihan band malam hari. Tepatnya, pukul sembilan malam. Selesainya jelas tengah malam. Malah, kalau mau ada acara, kami bisa latihan sampai dini hari. Seperti biasa, saat itu aku lagi ada jadwal latihan band. Berangkat dari rumah pukul setengah sembilan pagi.
Merasa pulang malam, aku berinisiatif membawa kunci gembok sendiri biar saat pulang nanti nggak membangunkan orang rumah untuk membukakan pintu. Berangkat dengan mengendarai mobil, aku melemparkan kunci gembok dengan seenaknya ke dalam tas. Saat itu, seingatku kunci sudah masuk ke dalam tas. Aku pun berangkat dengan tenang.
Ternyata benar, latihan selesai hingga larut malam. Waktu itu, aku baru pulang sekitar pukul satu dini hari. Sesampai di rumah, aku menggeledah isi tas untuk mencari kunci gembok rumah. Setelah beberapa menit, ternyata nggak terlihat batang kunci mungil tersebut.
Bingung mulai melanda. Semua saku celana, jaket, hingga seluruh isi mobil ikutan aku geledah. Hasilnya nihil. Kronologi kejadian tadi pagi pun mulai kuingat-ingat lagi. Sia-sia. Aku benar-benar lupa.
Tanpa pikir panjang, aku memutuskan memanjat pagar. Sampai di dalam, menggedor pintu adalah hal yang kulakukan berikutnya. Alhasil, aku pun kena marah semua penghuni rumah gara-gara membangunkan mereka di tengah malam. Sejak itu, aku menjadi orang yang lebih teliti. Semua barang-barangku aku taruh di tempat yang benar.
Termasuk, kunci. Bila di tas, aku menyelipkan di tempat yang mudah dijangkau. Misalnya, di kantong depan atau samping. Untuk kunci kamar, aku menaruhnya di bawah pot di depan kamar. Ternyata, enak juga ya kalau udah tahu tempat menaruh barang. He he he... (feb/kkn)
Tom-Tom
Drummer The Titans
Penyebabnya, aku lupa tempat menaruh. Mulai buku, alat-alat tulis, hingga kunci mobil. Parah nggak tuh? Akibatnya, orang-orang di sekitarku pasti ikutan repot kalau "penyakitku" kambuh. Mulai bantuin nyariin sampai bantuin marah-marah karena sebal. He he he...
Melihat ini semua, mereka mulai gerah, termasuk ortuku. Terutama, Mama. Beliau nggak pernah lupa menasihati aku agar care dengan barang-barangku. Tapi, nasihat itu masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Sama sekali nggak ada efeknya. Semua barang-barangku tetap aja hilang. Agar nggak dimarahi, aku berlagak nggak ada apa-apa.
Kalau misalnya ditanya barang A ke mana, aku berdalih dipinjam atau ketinggalan di rumah teman. Untung, ortu percaya. Hal itu mungkin terus berlanjut bila dua tahun lalu aku nggak kena batunya.
Kali ini, yang hilang adalah kunci gembok rumah. Cerita tersebut terjadi saat masa SMA dulu. Waktu itu, aku selalu dapat jadwal latihan band malam hari. Tepatnya, pukul sembilan malam. Selesainya jelas tengah malam. Malah, kalau mau ada acara, kami bisa latihan sampai dini hari. Seperti biasa, saat itu aku lagi ada jadwal latihan band. Berangkat dari rumah pukul setengah sembilan pagi.
Merasa pulang malam, aku berinisiatif membawa kunci gembok sendiri biar saat pulang nanti nggak membangunkan orang rumah untuk membukakan pintu. Berangkat dengan mengendarai mobil, aku melemparkan kunci gembok dengan seenaknya ke dalam tas. Saat itu, seingatku kunci sudah masuk ke dalam tas. Aku pun berangkat dengan tenang.
Ternyata benar, latihan selesai hingga larut malam. Waktu itu, aku baru pulang sekitar pukul satu dini hari. Sesampai di rumah, aku menggeledah isi tas untuk mencari kunci gembok rumah. Setelah beberapa menit, ternyata nggak terlihat batang kunci mungil tersebut.
Bingung mulai melanda. Semua saku celana, jaket, hingga seluruh isi mobil ikutan aku geledah. Hasilnya nihil. Kronologi kejadian tadi pagi pun mulai kuingat-ingat lagi. Sia-sia. Aku benar-benar lupa.
Tanpa pikir panjang, aku memutuskan memanjat pagar. Sampai di dalam, menggedor pintu adalah hal yang kulakukan berikutnya. Alhasil, aku pun kena marah semua penghuni rumah gara-gara membangunkan mereka di tengah malam. Sejak itu, aku menjadi orang yang lebih teliti. Semua barang-barangku aku taruh di tempat yang benar.
Termasuk, kunci. Bila di tas, aku menyelipkan di tempat yang mudah dijangkau. Misalnya, di kantong depan atau samping. Untuk kunci kamar, aku menaruhnya di bawah pot di depan kamar. Ternyata, enak juga ya kalau udah tahu tempat menaruh barang. He he he... (feb/kkn)
Tom-Tom
Drummer The Titans
Langganan:
Komentar (Atom)
