Selasa, 12 Agustus 2008

Cinta Murni atau Semu

Mengaku mampu mempersembahkan cinta sejati untuknya? Nanti dulu. Saat tertusuk panah cupid, kita sering jadi orang idiot mendadak, lho. Dalam hati cinta, tapi output-nya sering nggak sejalan. Malah, nggak jarang kita marah tanpa sebab. Si dia mungkin mau mengalah. Tapi, dari sinar matanya, terlihat jelas kalau dia kecewa. Nah, lho, beneran cinta nggak sih? Sebelum mendapatkan surat PHK dari sang pangeran, lebih baik kenali dulu kadar cintamu. Ingat, nggak ada kata terlambat untuk berubah, kok! (put/nor)

---

Kamu tidak sungguh-sungguh menyayanginya kalau:

? Selalu berpikir bahwa si dia adalah pangeran paling tampan, baik hati, pengertian, setia, dan sempurna.

? Mengutamakan janji kencan kalian ketimbang menuruti permintaannya untuk menonton DVD di rumah karena capek.

? Setiap ada waktu luang, kamu selalu mengharuskan dirimu untuk menghabiskannya bersama dia.

? Nggak tahu kenapa, kamu gampang banget marah setiap kali dia bikin salah, tanpa mau mendengarkan dan memikirkan alasannya.

? Kamu begitu menyayanginya, sampai-sampai nggak rela kalau senyumnya yang indah itu harus terbagi dengan cewek lain. Kamu jadi gampang cemburu.

? Sulit banget berkompromi setelah bertengkar. Seandainya dia begini, pasti jadinya akan lebih baik, begitu pikirmu selalu.

---

Kamu menyayanginya dengan tulus kalau:

? Kamu sendiri juga nggak tahu alasannya. Tapi, kamu bersedia menerima dia apa adanya, lengkap dengan segala paket kekurangannya. Lucunya lagi, kamu sama sekali nggak berniat mengubah kejelekannya itu.

? Mengutamakan kepentingannya di atas kepentinganmu. Dia memang janji bakal menemanimu nonton film yang udah kamu tunggu-tunggu sejak berbulan-bulan lalu. Tapi, kalau dia capek? Jelas nggak tega. Mendingan menemaninya istirahat di rumah.

? Merasa nyaman saat terpisah dengannya sepanjang dia baik-baik aja. Dalam kamusmu, nggak ada keharusan untuk kencan. Kalau dia memang lagi sibuk, ya ditunda dulu senang-senangnya. Asal, komunikasi tetap terjaga.

? Meskipun dia memang bersalah, kamu tetap bersedia mendengarkan alasannya. Kamu juga nggak keberatan mempertimbangkan alasan itu sebagai alasan untuk memaafkannya.

? Percaya seratus persen kepadanya. Dia jalan berdua sama sobat ceweknya? So what? Kamu yakin dia nggak bakal menodai kepercayaan yang udah kamu berikan kepadanya.

? Mau diajak mencari solusi bersama setelah cekcok. Bahkan, kamu selalu memetik hikmah dari suasana panas tadi.

0 komentar:

Posting Komentar